Wednesday, January 2, 2013

Jurus Ampuh Stop Rengekan Anak



 
Sudah biasa bila anak-anak suka merengek. Ada banyak alasan yang membuat anak merengek. Ia mungkin lapar, mengantuk, ingin cari perhatian, atau memang sedang bosan dan ingin sesuatu berbeda. Bila si kecil terus merengek, cobalah langkah-langkah berikut yaa bun untuk menghentikan rengekannya: 

1. Tawarkan camilan di antara waktu-waktu makan, bisa jadi ia sudah merasa sedikit lapar sehingga mulai merengek. Berikan camilan yang bergizi untuk membuatnya kembali bersemangat hingga saat makan berikutnya tiba.

2. Waktunya tidur. Meski masih antusias ingin bermain, bisa jadi tubuhnya sudah memberi ‘alarm’ untuk beristirahat. Akibatnya, ia jadi rewel saat bermain. Jangan ragu untuk mengajaknya pindah bermain ke kasur saja bun. Tak lama… pasti ia akan terlelap.

3. Alihkan perhatiannya. Ia ingin sesuatu yang tak bisa bunda berikan? Jam tangan mahal suami yang ketinggalan di atas meja rias bunda, mungkin? Hmm… ke taman saja, yuk! Lihat pohon yang rindang, bunga-bunga yang bermekaran, kupu-kupu yang terbang… Boleh dicoba juga lho bun, mengejar kupu-kupu yang berpindah dari satu bunga ke bunga yang lain. Ia juga bisa memandang burung gereja yang asyik mematuk sesuatu dari tanah, atau sekadar mengamati daun-daun yang bergoyang tertiup angin.

4. Nyanyi, yuk! Bila ia merengek karena bosan, lagu-lagu yang riang dapat menghibur dan melenyapkan rasa bosannya. “Balonku ada lima…”, “Aku seorang kapiten…”, atau apapun lagu-lagu dari masa kecil bunda masih cukup efektif kok, untuk kembali membuatnya bersemangat.

5. Bagaimana kalau rengekannya terjadi saat bunda mengajaknya bepergian? Berjaga-jagalah. Jangan lupakan selimut kesayangan, teddy bear, buku-buku, atau mainan favoritnya juga sebaiknya dibawa saja ya bun.

Hati-hati, Mainan Plastik Bisa Beracun!



Bunda nyangka nggak kalau mainan bayi dan anak yang terbuat dari bahan plastik lentur menjadi ancaman kesehatan bagi anak.

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak orang tua sudah mengetahui risiko berbahaya mainan plastik. Aturan pelarangan penggunaan zat kimia berbahaya pun sudah mulai digalakkan. Tapi, masih saja ada produk mainan dengan kandungan bahan beracun beredar di pasaran.

Sudah ada laranganmemproduksi mainan dan seluruh peralatan yang mengandung bahan kimia phthalate mulai awal 2009.

Namun para produsen masih diperbolehkan menghabiskan sisa stok barang yang sudah terlanjur diproduksi hingga tiba waktu peraturan diberlakukan.

Hal ini dianggap memberi keringanan pada industri mainan plastik dan tidak memikirkan efek buruknya bagi konsumen.

Phthalate adalah zat kimia yang banyak digunakan pada bahan vinyl dan plastik. Bahan tersebut bisa meningkatkan kelenturan plastik dan vinyl.

Kontaminasi bahan itu pada anak bisa menyebabkan berbagai gangguan dan kelainan kesehatan bagi bayi dan anak. Misalnya asma, gangguan pencernaan, kerusakan otak, gangguan reproduksi, pubertas dini, bahkan penurunan produksi sperma pada anak laki-laki.

Bagaimana cara menghindarkan anak dari bahaya bahan plastik beracun?

- Pilih mainan atau peralatan plastik yang tidak mengandung bahan yang berbahaya atau memiliki label phthalate-free.

- Jangan membeli mainan plastik yang mengandung polyvinyl chloride (PVC). Bahan tersebut memiliki kandungan phthalate yang sangat tinggi.

- Hindari produk mainan berbahan plastik dan logam berharga murah. Barang-barang tersebut banyak mengandung timbal berbahaya. Meskipun harganya sedikit mahal tidak apa2 lhoo bun, demi kesehatan anak kita dan investasi jangka panjang mereka.

- Pilih produk perawatan bayi yang terjamin. Hindari produk yang mengandung xylene, toluene, dan phthalate.

- Sebaiknya ganti peralatan makan bayi berbahan gelas (tentunya dengan pengawasan bunda, agar tidak mudah pecah).

- Cucilah produk plastik dengan cara benar. Jangan mencuci peralatan plastik dengan sabun berlebih. Air panas juga tidak boleh digunakan untuk mencuci plastik, sebab jika plastiknya terkena panas, zat kimianya bisa larut.

Jarak Ideal Usia Kakak dan Adik


Apakah bunda dan suami mulai membicarakan kemungkinan memberi adik untuk anak? Tapi tahukah bun, jauh ataupun dekat jarak usia antar anak, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan lhoo. Apa saja yaaa, yukk mari disimak ^___^ 

Jarak usia antar anak 1 hingga 3 tahun


Kelebihan:
- Mereka akan menjadi teman bermain. Anak yang berusia 2 tahun atau lebih muda juga lebih mudah untuk beradaptasi dengan kehadiran adik baru. Penelitian dari Universitas Maryland Amerika menyimpulkan hal tersebut disebabkan anak seusia tersebut masih belum menyadari posisinya ‘tergantikan’ seperti anak-anak lebih besar.
-Jarak usia kurang dari 3 tahun antar anak sangat umum terjadi di Amerika dan dianggap cukup ideal. Sebab, kedua anak masih cukup dekat bermain bersama.
- Bunda dan suami cenderung lebih kompak dalam kondisi ini.

Kekurangan:
- Membesarkan dua balita sekaligus merupakan pekerjaan besar. Bersiap menghadapi kebiasaan kurang tidur dan berdebat hampir setiap saat. Bunda juga perlu berhati-hati, lebih fokus pada anak lebih kecil, bisa membuat si kakak kurang diperhatikan lhoo bun. Walaupun orangtua berkonsentrasi memperhatikan keselamatan adik, si kakak juga tetap berhak memiliki waktu khusus bersama bunda dan ayah.
- Kondisi Finansial juga sering menjadi faktor penentu jarak ideal anak. Saat anak seumuran, bunda mungkin harus mengeluarkan dana ekstra membeli barang-barang serba 2 buah (padahal bukan anak kembar). Atau, koleksi mainan menjadi tidak variatif karena keduanya memilih mainan sama di toko.

Jarak usia antar anak 3 tahun atau lebih

Kelebihan:
- Pertengkaran antar anak akan lebih jarang dengan jarak usia ini. Ketika anak berusia 4 tahun, ia akan memperlakukan adik bayi lebih lembut dan penuh kasih sayang.
- Bunda tidak perlu khawatir dan justru bisa mendapat ‘asisten’ sukarela menjadi mentor si adik. Ketika si kakak sudah cukup besar, ia sudah cukup lama merasakan perhatian eksklusif dari orangtua sehingga rasa cemburu pada adik juga lebih jarang muncul.
- Sementara jarak kehamilan yang agak jauh memberi kesempatan bunda beristirahat dan bersiap untuk anak berikutnya.

Kekurangan:
- Tahapan perkembangan kakak dan adik sudah jauh berbeda, minat dan kebutuhan mereka pun berbeda. Saat si kakak sedang asyik menulis dan menggambar, si adik lebih tertarik memakannya atau merusaknya.
- Bunda juga perlu masa adaptasi lagi setelah sekian lama terbiasa dengan hidup lebih ‘teratur’ tanpa bayi, sekarang harus mengingat kembali masa-masa tersebut.

Sekarang semua kembali kepada kesiapan bunda secara fisik, mental dan emosional. Karena bagaimanapun kita merencanakannya, yang terjadi tetaplah kehendak Yang Diatas.