Showing posts with label Nifas. Show all posts
Showing posts with label Nifas. Show all posts

Thursday, February 9, 2012

Manfaat ASI dan Menyusui


MANFAAT ASI DAN MENYUSUI

Manfaat ASI dan menyusui dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu: aspek gizi, aspek imunologik, aspek psikologi, aspek kecerdasan, neurologis, ekonomis dan aspek penundaan kehamilan.

1.Aspek Gizi.
Manfaat Kolostrum
·   Kolostrum mengandung zat kekebalan terutama IgA untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi terutama diare.
·   Jumlah kolostrum yang diproduksi bervariasi tergantung dari hisapan bayi pada hari-hari pertama kelahiran. Walaupun sedikit namun cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi. Oleh karena itu kolostrum harus diberikan pada bayi.
·   Kolostrum mengandung protein,vitamin A yang tinggi dan mengandung karbohidrat dan lemak rendah, sehingga sesuai dengan kebutuhan gizi bayi pada hari-hari pertama kelahiran.
·   Membantu mengeluarkan mekonium yaitu kotoran bayi yang pertama berwarna hitam kehijauan.

Komposisi ASI
·   ASI mudah dicerna, karena selain mengandung zat gizi yang sesuai, juga mengandung enzim-enzim untuk mencernakan zat-zat gizi yang terdapat dalam ASI tersebut.
·   ASI mengandung zat-zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi/anak.
·   Selain mengandung protein yang tinggi, ASI memiliki perbandingan antara Whei dan Casein yang sesuai untuk bayi. Rasio Whei dengan Casein merupakan salah satu keunggulan ASI dibandingkan dengan susu sapi. ASI mengandung whey lebih banyak yaitu 65:35. Komposisi ini menyebabkan protein ASI lebih mudah diserap. Sedangkan pada susu sapi mempunyai perbandingan Whey :Casein adalah 20 : 80, sehingga tidak mudah diserap.

Komposisi Taurin, DHA dan AA pada ASI
·   Taurin adalah sejenis asam amino kedua yang terbanyak dalam ASI yang berfungsi sebagai neuro-transmitter dan berperan penting untuk proses maturasi sel otak. Percobaan pada binatang menunjukkan bahwa defisiensi taurin akan berakibat terjadinya gangguan pada retina mata.
·  Decosahexanoic Acid (DHA) dan Arachidonic Acid (AA) adalah asam lemak tak jenuh rantai panjang (polyunsaturated fatty acids) yang diperlukan untuk pembentukan sel-sel otak yang optimal. Jumlah DHA dan AA  dalam ASI sangat mencukupi untuk menjamin pertumbuhan dan kecerdasan anak. Disamping itu DHA dan AA dalam tubuh dapat dibentuk/disintesa dari substansi pembentuknya (precursor) yaitu masing-masing dari Omega 3 (asam linolenat) dan Omega 6 (asam linoleat).

2. Aspek Imunologik
·         ASI mengandung zat anti infeksi, bersih dan bebas kontaminasi.
·         Immunoglobulin A (Ig.A) dalam kolostrum atau ASI kadarnya cukup tinggi. Sekretori Ig.A tidak diserap tetapi dapat melumpuhkan bakteri patogen E. coli dan berbagai virus pada saluran pencernaan.
·         Laktoferin yaitu sejenis protein yang merupakan komponen zat kekebalan yang mengikat  zat besi di saluran pencernaan.
·      Lysosim, enzym yang melindungi bayi terhadap bakteri (E. coli dan salmonella) dan virus. Jumlah lysosim dalam ASI 300 kali lebih banyak daripada susu sapi.
·         Sel darah putih pada ASI pada 2 minggu pertama lebih dari 4000 sel per mil. Terdiri dari 3 macam yaitu: Brochus-Asociated Lympocyte Tissue (BALT) antibodi pernafasan, Gut Asociated Lympocyte Tissue (GALT) antibodi  saluran pernafasan, dan Mammary Asociated Lympocyte Tissue (MALT) antibodi jaringan payudara ibu.
·     Faktor bifidus, sejenis karbohidrat yang mengandung nitrogen, menunjang pertumbuhan bakteri lactobacillus bifidus. Bakteri ini menjaga keasaman flora usus bayi dan berguna untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang merugikan.

3. Aspek Psikologik
·    Rasa percaya diri ibu untuk menyusui : bahwa ibu mampu menyusui dengan produksi ASI yang mencukupi untuk bayi. Menyusui dipengaruhi oleh emosi ibu dan kasih saying terhadap bayi akan meningkatkan produksi hormon terutama oksitosin yang pada akhirnya akan meningkatkan produksi ASI.
·       Interaksi Ibu dan Bayi: Pertumbuhan dan perkembangan psikologik bayi tergantung pada kesatuan ibu-bayi tersebut.
·      Pengaruh kontak langsung ibu-bayi : ikatan kasih sayang ibu-bayi terjadi karena berbagai rangsangan seperti sentuhan kulit (skin to skin contact). Bayi akan merasa aman dan puas karena bayi merasakan kehangatan tubuh ibu dan mendengar denyut jantung ibu yang sudah dikenal sejak bayi masih dalam rahim.

4. Aspek Kecerdasan
·      Interaksi ibu-bayi dan kandungan nilai gizi ASI sangat dibutuhkan untuk perkembangan system syaraf otak yang dapat meningkatkan kecerdasan bayi.
·        Penelitian menunjukkan bahwa IQ pada bayi yang diberi ASI memiliki IQ point 4.3 point lebih tinggi pada usia 18 bulan, 4-6 point lebih tinggi pada usia 3 tahun, dan 8.3 point lebih tinggi pada usia 8.5 tahun, dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI.

5. Aspek Neurologis
·         Dengan menghisap payudara, koordinasi syaraf menelan, menghisap dan bernafas yang terjadi pada bayi baru lahir dapat lebih sempurna.

6. Aspek Ekonomis
·         Dengan menyusui secara eksklusif, ibu tidak perlu mengeluarkan biaya untuk makanan bayi sampai bayi berumur 4 bulan. Dengan demikian akan menghemat pengeluaran rumah tangga untuk membeli susu formula dan peralatannya.

7. Aspek Penundaan Kehamilan
·      Dengan menyusui secara eksklusif dapat menunda haid dan kehamilan, sehingga dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi alamiah yang secara umum dikenal sebagai Metode Amenorea Laktasi (MAL).

Sumber: Buku Panduan Manajemen Laktasi: Dit.Gizi Masyarakat-Depkes RI,2001

Pemeriksaan Fisik Ibu Nifas



PEMERIKSAAN FISIK IBU NIFAS

A.   Pengertian
Pemeriksaan fisik merupakan salah satu cara mengetahui gejala atau masalah kesehatan yang dialami oleh ibu nifas dengan mengumpulkan data objektif dilakukan pemeriksaan terhadap pasien.

B.   Tujuan
Tujuan pemeriksaan fisik ibu nifas adalah
1.    Untuk mengumpulkan data
2.    Mengidentifikasi masalah pasien
3.    Menilai perubahan status pasien
4.    Mengevaluasi pelaksanaan tindakan yang telah di berikan

C.   Prinsip umum
Prinsip-prinsip umum pemeriksaan ibu nifas:
1. Pemeriksaan fisik ibu nifas disesuaikan dengan tujuan kunjungan program dan kebijaksanaan (6 jam, 2-6 hari, 2 minggu, 6 minggu setelah persalinan)
2.    Menjelaskan pemeriksaan fisik yang akan dilakukan pada klien
3.    Pada saat pemeriksaan fisik, biasakan pemeriksa berdiri di sebelah kanan klien.
4.   Gunakan pendekatan fisik mulai dari arah luar tubuh  ke arah dalam tubuh, posisi pasien tergantung jenis pemeriksaan dan kondisi sewaktu di periksa.
5.  Gunakan pemeriksaan fisik dengan menggunakan tekhnik pemeriksaan dari daerah yang mengalami kelainan (abnormal) ke daerah yang tidak memgalami kelainan(normal)
6.    Perhatikan pencahayaan yang tapat, suhu, suasana ruangan yang nyaman serta privasi pasien.

D.   Tekhnik Pemeriksaan FisikIbu Nifas
Tekhnik yang dipergunakan dalam pemeriksaan fisik ibu nifas ada empat yaitu: inspeksi, palpasi,perkusi dan auskultasi.

E.   Persiapan pemeriksaan fisik ibu nifas
Ada beberapa hal yang perlu di persiapkan sebelum melakukan pemeriksaan fisik ibu nifas:
1.    Persiapan ruangan.
Ruangan disiapkan sebaik mungkin misal dengan memasang penyekat, mengatur pencahayaan.
2.    Persiapan alat
Baki 1 buah, tensi meter dan stetoskop, termometer,senter, kapas + air DTT, hand schoen 1 pasang, pincet, bengkok, tempat sampah, larutan clorin 0,5 %.
3.    Persiapan pasien
Sebelum melakukan pemeriksaan beritahu pasien tindakan yang akan dilakukan, atur posisi untuk mempermudah pemeriksaan, atur pasien seefisien mungkin.

F.    Pemeriksaan fisik ibu nifas
1.    Pengkajian status mental dan penampilan
2.    Pengukuran tanda-tanda vital
 Tanda-tanda vital meliputi : suhu tubuh, nadi pernapasan dan tekanan darah,
3. Pemeriksaan wajah
a.    Wajah : pembekangkakan pada daerah wajah.
b.    Mata: konjungtiva dan skelera
c.    Hidung
d.    Bibir
3.    Pemeriksaan leher : Kelenjar Tiroid, Kelenjar Limfe dan Vena Jugularis.
4.    Pemeriksaan payudara : Puting ( bentuknya, pengeluaran colostrum), pembengkakan, luka/ lecet, tanda radang dan benjolan.
5.    Pemeriksaan abdominal secara umum dan memeriksa tinggi fundus uteri  ,kontraksi uterus dan memeriksa apakah kandung kemih kosong/penuh
6.    Pemeriksaan genitalia :
a.       Perineum (edema dan hematoma)
b.       Memeriksa luka jahitan episiotomi
c.       Kebersihan daerah perineum
d.      Pengeluaran lochea(warna dan bau)
e.       Anus (haemoroid dan perdarahan)
7.    Pemeriksaan ekstremitas bawah : tromboplebitis, edema, varises, ref.patella.


Referensi

1.    Suherni,dkk. 2009. Perawatan masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya
2.    Anggraeni yetti, 2010, asuhan kebidanan masa nifas, yogyakarta : pustaka rihama
4.    Ramaia.2006. Asi dan menyusui. Jakarta, PT Buana ilmu populer


Wednesday, February 8, 2012

Perubahan Fisiologi Masa Nifas


      PERUBAHAN FISIOLOGI MASA NIFAS

Perubahan Endokrin
            3 jam setelah post partum kadar estrogen menurun 10 %, sedangkan progesteron turun pada hari ke 3 post partum dan kadar prolaktin dalam darah berangsur-angsur hilang.

1.    Hormon plasenta
Selama periode pasca partum terjadi perubahan hormon yang besar, pengeluaran plasenta menyebabkan penurunan signifikan hormon-hormon yang diproduksi oleh plasenta. Hormon plasenta menurun secara drastis setelah persalinan, Human Chorionic Gonadotropin ( HCG ) menurun dengan cepat dan menetap sampai 10 % dalam 3 jam hingga hari ke 7 post partumdan sebagai onset pemenuhan mammae pada hari ke 3 post partum.

2.    Hormon Oksitosin
Oksitosin dikeluarkan dari kelenjar bawah otak bagian belakang, selama tahap ketiga persalinan, oksitosin menyebabkan pemisahan plasenta. Kemudian seterusnya bertindak atas otot yang menahan kontraksi, mengurangi tempat plasenta dan mencegah pendarahan. Pada wanita yang menyusui bayinya, isapan sang bayi merangsang keluarnya oksitosin lagi dan ini membantu uterus kembali ke bentuk normal dan pengeluaran air susu.

3.    Hormon pituitary
Prolaktin darah meningkat dengan cepat, pasa wanita tidak menyusui menurun dalam waktu 2 minggu. FSH dan LH meningkat pada fase konsentrasi folikuler pada minggu ke 3 dan LH tetap rendah hingga ovulasi terjadi.

4.    Hipotalamik Pituitary Ovarium
Untuk wanita yang menyusui dan tidak menyusui akan mempengaruhi lamanya ia mendapatkan menstruasi, menstruasi pertama itu bersifat anovulasi yang dikarenakan rendahnya kadar estrogen dan progesteron. Sekitar 15% wanita laktasi memperoleh menstruasi selama 6 minggu dan 45% setelah 12 minggu, sedang wanita yang tidak laktasi 40% menstruasi setelah 6 minggu, 65% setelah 12 minggu dan 90% setelah 24 minggu. Untuk wanita laktasi 80% menstruasi pertama anovulasi dan untuk wanita yang tidak laktasi 50% siklus pertama anovulasi.

PERUBAHAN TANDA-TANDA VITAL
1.    Suhu badan
24 jam post partum suhu badan akan naik sedikit berkisar 37,5-38 derajat celsius sebagai akibat kerja keras waktu melahirkan, kehilangan cairan dan kelelahan. Pada hari ke 3 suhu badan naik lagi karena adanya pembentukan ASI, buah dada menjadi bengkak berwarna merah karena banyaknya ASI. Kita anggap nifas terganggu kalau ada demam lebih dari 38 derajat celcius pada 2 hari berturut-turut pada 10 hari pertama post partum.

2.    Nadi
Denyut nadi pada orang dewasa 60-80 kali permenit, sehabis melahirkan biasanya denyut nadi akan lebih cepat. Setiap denyut nadi yang melebihi 100 adalah abnormal yang kemungkinan bisa disebabkan karena adanya infeksi atau pendarahan post partum.

3.    Tekanan darah
Tekanan darah pada post partum biasanya tidak berubah, tekanan darah akan rendah pada post partum dikarenakan adanya pendarahan, sedang bila tekanan darah tinggi pada post partum dapat menandakan terjadinya preeklampsi.

4.    Pernapasan
       Pernapasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut nadi. Bila suhu dan nadi tidak normal, pernapasan juga akan mengikutinya, kecuali ada gangguan khusus pada saluran napas.

Perubahan Sistem Kardiovaskuler
            Selama kehamilan volume darah normal digunakan untuk menampung aliran darah yang meningkat, yang diperlukan oleh plasenta dan pembuluh darah uterin. Penurunan darah estrogen menyebabkan diuresis terjadi, yang secara cepat mengurangi volume plasma kembali pada proporsi normal, hal ini terjadi dalam 2-4 jam pertama setelah kelahiran bayi dimana masa ini ibu mengeluarkan banyak sekali urine. Sedangkan penurunan kadar progesteron membantu mengurangi retensi cairan yang melekat dengan meningkatnya vaskuler pada jaringan tersebut selama kehamilan bersama-sama dengan trauma selama persalinan. Selama post partum terjadi perubahan yang terdiri dari volume darah ( blood volume ) dan hemokonsentrasi akan naik dan pada seksio sesaria hemokonsentrasi cenderung stabil dan kembali normal selama 4-6 minggu.

Perubahan Hematologi
            Selama minggu-minggu terakhir kehamilan, kadar fibrinogen dan plasma serta faktor-faktor pembekuan darah meningkat. Pada hari pertama post partum, kadar fibrinogen dan plasma akan sedikit menurun tetapi darah lebih mengental dan peningkatan viskositas sehingga meningkatkan faktor pembekuan darah. 

      Sumber Pustaka
a.    Anggraeni, Yetti, 2010, Asuhan Kebidanan Masa Nifas, Pustaka Rihanna, Yogyakarta
b.    Prawirohardjo, Sarwono, 2005, Ilmu Kebidanan, YBP-SP, Jakarta
c.    Sulistyawati, A. Dkk, 2010, Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalain, Salemba Medika, Jakarta.
d.   Varney, H, 2007, Buku Ajar Asuhan Kebidanan, EGC,


Masa Nifas


KONSEP DASAR MASA NIFAS

Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat–alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil.Masa nifas berlangsung selama kira–kira 6 minggu atau 42 hari,namun secara keseluruhan akan pulih dalam waktu 3 bulan. Masa nifas atau post partum disebut  juga puerperium yang berasal dari bahasa latin yaitu dari kata “puer“ yang artinya bayi dan “parous” berarti melahirkan. Nifas yaitu darah yang keluar dari rahim karena sebab melahirkan atau setelah melahirkan. Darah nifas yaitu darah yang tertahan tidak bisa keluar dari rahim dikarenakan hamil, maka ketika melahirkan darah tersebut keluar sedikit  demi sedikit.darah yang keluar sebelum melahirkan disertai tanda–tanda kelahiran, maka itu termasuk darah nifas juga.
           Waktu masa nifas yang paling lama pada wanita pada umumnya adalah 40 hari, dimulai sejak melahirkan atau sebelum melahirkan 9 yang disertai tanda–tanda kelahiran .Jika sudah selesai masa 40 hari akan tetapi darah tidak berhenti keluar maka perhatikan bila keluarnya di saat  "adah" (kebiasaan) haidh,maka itu darah haid. Akan tetapi jika darah yang keluar  terus dan tidak pada masa-masa (adah) haidnya perlu diperiksakan ke Bidan atau dokter. Beberapa konsep tentang pengertian masa nifas :
1.     Menurut Bennet V.R dan Brown L.K (1996) puerperium adalah waktu mengenai perubahan besar yang berjangka pada periode transisi dari puncak pengalaman melahirkan untuk menerima kebahagiaan dan  tanggung jawab.
2.   Menurut Williams perperium didefinisikan sebagaimasa persalinan dan segera setelah persalinan meliputi minggu–minggu berikutnya pada waktu alat–alat reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil atau kembali normal.

Tujuan masa nifas
Tujuan dari pemberian asuhan pada masa nifasuntuk :
  1. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis.
  2. Melaksanakan skrinning secara komprehensif, deteksi dini, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayi.
  3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, cara dan manfaat menyusui, pemberian imunisasi serta perawatan bayi sehari-hari.
  4. Memberikan pelayanan keluarga berencana

Tahapan dalam masa nifas
1.Puerperium dini (immediate pueperium): waktu 0-24 jam post partum yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan–jalan dalam agama Islam telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
2.Puerperium Intermediate (early puerperium) waktu 1–7 hari post partum. Kepulihan                                          menyeluruh alat – alat genentalia yang lamanya 6–8 minggu.
3.Remote puerperium (later puerperium) waktu 1–6 minggu post partum. Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna, terutama bila selama hamil dan waktu persalinan mempunyai komplikasi. 

Peran dan Tanggung Jawab Bidan dalam Masa Nifas
Bidan memiliki peranan yang sangat penting dalam pemberian asuhan post partum. Adapun peran dan tanggung jawab dalam masa nifasantara lain :
  1. Memberikan dukungan secara berkesinambungan selama masa nifas sesuai dengan kebutuhan ibu untuk mengurangi ketegangan fisik dan psikologis selama masa nifas.
  2. Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayi serta keluarga.
  3. Mendorong ibu untuk menyusui bayinya dengan meningkatkan rasa nyaman.
  4. Membuat kebijakan, perencana program kesehatan yang berkaitan ibu dan anak dan mampu melakukan kegiatan administrasi.
  5. Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan.
  6. Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara mencegah perdarahan, mengenali tanda-tanda bahaya, menjaga gizi yang baik, serta mempraktekkan kebersihan yang aman.
  7. Melakukan manajemen asuhan dengan cara mengumpulkan data, menetapkan diagnosa dan rencana tindakan serta melaksanakannya untuk mempercepat proses pemulihan, mencegah komplikasi dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama priode nifas.
  8. Memberikan asuhan secara professional.

Kebijakan ProgramPemerintah Nasional Masa Nifas        
Kebijakan program nasional pada masa nifas yaitu paling sedikit empat kali melakukan kunjungan pada masa nifas,
Kunjungan
Waktu
                                    Tujuan
      1






6-8 jam setelah persalinan

1.Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
2.Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan rujukan  bila perdarahan berlanjut
3.Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagamana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
4.Pemberian ASI awal 1 jam setelah partus
5.Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.
6.Menjaga bayi agar tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi.

      
6 hari setelah persalinan
1.Memastikan involusio berjalan dengan normal, uterus berkontraksi, fundus di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau
2.Menilai adanya tanda–tanda demam, infeksi
3.Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda- tanda penyulit pada bagian payudara
4.Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi tali pusat.

      3.
2 minggu setelah persalinan
1.Memastikan involusio uteri, berjalan normal uterus berkontrasi, fundus di bawah umbilikus
2.Menilai adanya tanda – tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal
3.Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan dan istirahat
4.Memastikan ibu menyusui bayi dengan baik
5.Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi rawat tali pusat.
      4
6 minggu setelah persalinan
1.Menanyakan pada ibu tentang penyulit yang lain atau bayi alami
2.Memberikan konseling untuk menggunakan KB secara dini

 Sumber Pustaka 
a.    Anggraeni,  Yetti,  2010,  Asuhan  Kebidanan  Masa  Nifas, Pustaka
     Rihanna,Yogyakarta
b.    Prawirohardjo, sarwono ,2005 , Ilmu Kebidanan , YBP-SP , Jakarta
c.    Sulistiawati , A. DKK , 2010 , Asuhan Kebidanan  pada Ibu Bersalin ,Salemba Medika ,Jakarta.
d.    Varney , H, 2007 , Buku  Ajaran Asuhan Kebidanan,ECG.