Showing posts with label Patologi. Show all posts
Showing posts with label Patologi. Show all posts

Thursday, March 15, 2012

Anemia pada Ibu Hamil


Anemia Pada Ibu Hamil
1.    Pengertian Anemia
a.  Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin di bawah 11 gr% pada trimester 1 dan 3 atau kadar < 10,5 gr% pada trimester 2 (Saifuddin, 2006).
b.    Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin dalam darahnya kurang dari 12 gr% (Winkjosastro, 2005).
c.    Anemia adalah turunya kadar hemoglobin kurang dari 12,0 gr/100 ml darah pada wanita yang tidak hamil dan kurang dari 10 gr/100 ml darah pada wanita hamil (Varney, 2002)
2.    Klasifikasi Anemia dalam Kehamilan
a.    Anemia Defisiensi Besi
Anemia dalam kehamilan yang paling sering dijumpai adalah akibat kekurangan besi. Kekurangan ini dapat disebabkan karena kurang masuknya unsur besi dengan makanan, karena gangguan reabsorpsi, gangguan penggunaan atau karena terlampau banyaknya besi ke luar dari badan, misalnya pada perdarahan.
b.    Anemia Megaloblastik
Anemia Megaloblastik biasanya berbentuk makrositik atau pernisiosa. Penyebabnya adalah karena kekurangan asam folik, jarang sekali karena akibat kekurangan vitamin B12. Biasanya karena malnutrisi dan infeksi yang kronik.
c.    Anemia Hipoplastik
Anemia Hipoplastik adalah anemia pada ibu hamil yang disebabkan karena sum-sum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah baru. Gambaran darah tepi menunjukan normositer dan normokrom, tidak ditemukan cirri-ciri defisiensi besi, asam folik atau vitamin B12. Penyebabnya belum diketahui, kecuali yang disebabkan oleh infeksi berat (sepsis), keracunan dan sinar rontgen atau sinar radiasi. Terapi dengan obat-obatan tidak memuaskan, mungkin pengobatan yang paling baik yaitu tranfusi darah yang perlu sering diulang.
d.    Anemia Hemolitik
Disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari pembuatannya.

3.    Kategori Anemia
Anemia dapat dikategorian sebagai berikut :
a.    Tidak anemia bila kadar Hb 11 gr%
b.    Anemia Ringan bila kadar Hb 9-10 gr%
c.    Anemia Sedang bila kadar Hb 7-8 gr%
d.    Anemia Berat bila kadar Hb < 7 gr%
4.    Tanda dan Gejala Anemia
      Keluhan lemah, pucat, mudah pingsan sementara tensi masih dalam batas normal, perlu dicurigai anemia defisiensi. Secara klinik dapat dilihat tubuh yang malnutrisi, pucat.
5.    Etiologi
      Penyebab anemia dalam kehamilan umumnya adalah kurang gizi (malnutrisi), kurang zat besi dalam diet, malabsorpsi, kehilangan darah yang banyak seperti riwayat persalinan yang lalu, haid dan penyakit-penyakit kronik seperti TBC paru, cacing usus, malaria, dll.
      Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi karena terjadi menstruasi dengan perdarahan sebanyak 50 sampai 80 cc setiap bulan dan kehilangan zat besi sebesar 30 sampai 40 mg. Disamping itu kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan membentuk sel darah merah janin dan plasenta. Makin sering seorang wanita mengalami kehamilan dan melahirkan akan makin banyak kehilangan zat besi dan menjadi makin anemis.
6.    Patofisiologi Anemia Kehamilan
      Darah bertambah banyak dalam kehamilan, yang lazim disebut hidremia atau hipervolemia. Akan tetapi, bertambahnya sel-sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma, sehingga terjadi pengenceran darah. Perbandingannya tidak seimbang yakni plasma bertambah 30%, sel darah 18%, dan hemoglobin 19%. Pengenceran darah dianggap sebagai penyesuaian diri secara fisiologi dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita hamil oleh karena pengenceran itu meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa hamil, karena sebagai akibat hidremia cardiac output meningkat. Kerja jantung lebih ringan apabila viskositas darah rendah. Resistensi perifer berkurang pula, sehingga tekanan darah tidak naik. Kemudian, pada perdarahan waktu persalinan banyaknya unsur besi yang hilang lebih sedikit dibandingkan apabila darah itu tetap kental. Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah mulai sejak kehamilan umur 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu.
      Pada kehamilan relative terjadi anemia karena darah ibu hamil mengalami hemodelusi dengan peningkatan volume 30% sampai 40%. Jumlah peningkatan sel darah 18% sampai 30%, dan hemoglobin sekitar 19%. Bila hemoglobin ibu sebelum hamil sekitar 11 gr% maka dengan terjadinya hemodelusi akan mengakibatkan anemia hamil fisiologis dan Hb ibu akan menjadi 9,5 gr% sampai 10 gr%.
7.    Pengaruh Anemia pada Kehamilan dan Janin
a.    Pengaruh Anemia terhadap kehamilan .
1)    Bahaya selama kehamilan
a)    Dapat terjadi abortus.
b)    Persalinan Prematuritas.
c)    Hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim.
d)    Mudah terjadi infeksi.
e)    Ancaman dekompensasi kordis (Hb < 6 gr%).
f)     Mola Hidatidosa.
g)    Hiperemesis Gravidarum.
h)   Perdarahan Antepartum.
i)     Ketuban Pecah Dini.
2)    Bahaya saat persalinan
a)    Gangguan his, kekutan mengejan.
b)    Kala pertama dapat berlangsung lama.
c) Kala dua berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan operasi kebidanan.
d)    Kala Uri dapat diikuti retensio plasenta dan perdarahan post partum karena atonia uteri.
e)    Kala empat dapat terjadi perdarahan post partum sekunder dan atonia uteri.
3)    Pada kala nifas
a)    Terjadi Sub Involusio uteri menimbulkan perdarahan postpartum.
b)    Memudahkan infeksi puerperium.
c)    Pengeluaran ASI berkurang.
d)    Terjadi dekompensasi kordis mendadak setelah persalinan.
e)    Anemia kala nifas.
f)     Mudah terjadi infeksi mammae.
b.    Pengaruh Anemia terhadap janin.
     Sekalipun tampaknya janin mampu menyerap berbagai kebutuhan dari ibunya, tetapi dengan anemia akan mengurangi kemampuan metabolisme tubuh sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Akibat anemia dapat terjadi gangguan dalam bentuk :
1)    Abortus
2)    Terjadi kematian intrauteri.
3)    Persalinan prematuritas tinggi.
4)    Berat badan lahir rendah.
5)    Kelahiran dengan anemia.
6)    Dapat terjadi cacat bawaan.
7)    Bayi mudah mendapat infeksi hingga kematian perinatal.
8)    Inteligensia rendah.  
8.    Diagnosis Anemia Dalam Kehamilan
     Untuk menegakkan diagnosis anemia kehamilan dapat dlakukan dengan anamnesa. Pada anamnesa akan didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, dan keluhan mual muntah lebih hebat pada kehamilan muda.
     Ibu hamil dengan kadar Hb kurang dari 10 gr/100 ml barulah disebut anemia dalam kehamilan, karena itu para wanita hamil dengan Hb antara 10 dan 12 g/100 ml tidak dianggap anemia patologik, akan tetapi anemia fisiologik.
     Pemeriksaan kadar Hb dan darah tepi akan memberikan kesan pertama.
9.    Penanganan Anemia Dalam Kehamilan.
           Kebutuhan ibu selama kehamilan ialah 800 mg besi diantaranya 300 mg untuk janin plasenta dan 500 mg untuk penambahan eritrosit ibu .
      Apabila pada pemeriksaan kehamilan hanya Hb yang diperiksa dan Hb itu kurang dari 10 g/100 ml, maka wanita tersebut dapat dianggap sebagai anemia defesiensi besi, baik yang murni maupun yang dimorfis, karena tersering anemia dalam kehamilan ialah anemia defisiensi besi.
      Pengobatan dapat dimulai dengan preparat besi sebanyak 600-1000 mg sehari seperti sulfas ferrosus atau glukonas ferrosus. Hb dapat dinaikkan sampai 10 g/100 ml atau lebih asal masih ada cukup waktu sampai janin lahir.
     Untuk menghindari terjadinya anemia, sebaiknya ibu hamil melakukan pemeriksaan sebelum hamil sehingga dapat diketahui data-data dasar kesehatan umum calon ibu tersebut, disertai pemeriksaan laboratorium .
      Pencegahan di daerah-daerah dengan frekuensi kehamilan yang tinggi sebaiknya setiap wanita hamil diberi sulfas ferosus atau glukonas ferrosus, cukup 1 tablet sehari. Selain itu wanita dinasehatkan pula untuk makan lebih banyak protein dan sayur-sayuran yang mengandung banyak mineral serta vitamin.

Referensi:
Manuaba, IBG. 1998.Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta ; EGC
Rustam M. 1998. Sinopsis Obstetri Edisi 2. Jakarta :EGC
Saifuddin, Abdul. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayaysan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Saifuddin, Abdul. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi Edisi 2. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Varney, Helen. 2002. Buku Saku Bidan. Jakarta : EGC
Winkjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Preeklampsi


Preeklampsi

1.    Penyebab preeklampsia
     Etiologi penyakit ini sampai sekarang belum diketahui secara pasti. Oleh karena itu, pendekatan yang bijaksana adalah megidentifikasi wanita yang beresiko atau mereka yang menunjukkan gejala. Kondisi yang dihubungkan dengan preeeklampsia adalah sebagai berikut :
a.    Nuliparitas
b.    Penyakit trofoblastik (70% terjadi pada kasus mola hidatidosa)
c.    Kehamilan kembar, tanpa memperhatikan paritas
d.    Riwayat penyakit :
1)    Hipertensi kronis
2)    Penyakit ginjal kronis
3)    Diabetes mellitus pra-kehamilan
e.    Riwayat preeklampsia atau eklampsia dalam keluarga
f.     Riwayat preeklampsia sebelumnya
g.    Nutrisi jelek
h.    Ibu dengan obesitas

2.    Patofisiologi preeklampsia
      Patifisiologi preeklampsia setidaknya berkaitan dengan perubahan fisiologis kehamilan. Pada kehamilan normal dinding spiral arteri di invasi oleh sel-sel trofoblas dan membentuk suatu saluran yang berkelok-kelok yang berfungsi untuk membawa sejumlah besar darah ke dalam celah intervillus yang mengakibatkan penurunan tahanan perifer.
       Pada kasus preeklampsia terdapat keadaan tidak adekuatnya invasi dari spiral arteriol oleh sel-sel trofoblas sehingga terjadi penurunan perfusi jaringan utero plasenta. Pada proses lanjut hal ini menyebabkan kerusakan endothelium pembuluh darah.dan selanjutnya terjadi vasokonstriksi. Vasokonstriksi  menyebabkan  volume plasma yang beredar menurun dan timbul hemokonsentrasi. Sebagai kompensasinya terjadi peningkatan permeabilitas pembuluh darah sehingga pada akibat lanjut mengakibatkan terjadinya edema. Selain itu vasokonstriksi juga menyebabkan aliran darah ke ginjal menurun sehingga terjadi gangguan filtrasi glomerulus. Kerusakan glomerulus inilah sehingga senyawa albumin bisa lolos dan terdapat dalam urin.
     Pada beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilalui oleh satu sel darah merah. Jadi, jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka tekanan darah akan naik sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi.



 
3.    Komplikasi
     Komplikasi terberat adalah kematian ibu dan janin. Usaha utama ialah melahirkan bayi hidup dari ibu yang menderita preeklampsia dan eklampsia. Koplikasi yang tersebut di bawah ini bias any aterjadi pada preeklampsia berat dan eklampsia .
a.    Solusio plasenta
b.    Hipofibrinogenemia
c.    Hemolisis 
d.    Perdarahan otak
e.    Kelainan mata
f.     Edema paru-paru
g.    Nekrosis hati
h.    Sindrom HELLP
i.      Kelainan ginjal
j.      Prematuritas, dismaturitas dan kematian janin intra uterin

4.    Pencegahan
     Pemeriksaan antenatal yang teratur dan teliti dapat menemukan tanda-tanda dini preeklampsia dan dalam hal ini harus dilkukan penanganan yang semestinya. Kita perlu lebih waspada akan timbulnya preeklampsia dengan adanya factor-faktor predisposisi seperti yang telah diuraikan di atas. Walaupun timbulnya preeklampsia tidak dapat dicegah sepenuhnya, namun frekuensinya dapat dikurangi dengan pemberin penerangan secukupnya dan pelaksanaan pengawasan yang baik pada wanita hamil.
     Penerangan tentang manfaat istitrahat dan diet berguna dalam pencegahan. Istirahat tidak selalu berarti erbaring di tempat tidur, namun pekerjaan sehari-hari perlu dikurangi, dan dianjurkan lebih banyak duduk dan berbaring.

5.    Penatalaksanaan preeklampsia
a.    Preeklampsia ringan
Kehamilan kurang dari 37 minggu
Jika belum ada perbaikan, lakukan penilaian 2 kali seminggu secara rawat jalan :
1)    Pantau tekanan darah, urin (untuk proteinuri), reflex dan kondisi janin
2)    Konseling pasien dan keluarganya tentang tanda-tanda bahaya preeklampsia dan eklampsia
3)    Lebih banyak istirahat
4)    Diet biasa (tidak perlu diet rendah garam)
5)    Tidak perlu diberi obat-obatan
Jika rawat jalan tidak mungkin, rawat di rumah sakit :
1)    Diet biasa
2)    Pantau tekanan darah 2 kali sehari, dan urin (untuk proteinuri) sekali sehari
3)    Tidak perlu diberi obat-obatan
4)    Tidak perlu diuretik, kecuali jika terdapat edema paru, dekompensasi kordis, atau gagal ginjal akut
5)    Jika tekanan diastolik turun sampai normal pasien dapat dipulangkan:
a)    Nasehatkan untuk istirahat dan perhatikan tanda-tanda preeklampsia berat
b)    Kontrol 2 kali seminggu untuk memantau tekanan darah, urin, keadaan janin, serta gejala dan tanda-tanda preeklampsia berat
c)    Jika tekanan diastolik naik lagi, rawat kembali
6)    Jika tidak ada tanda-tanda perbaikan, tetap dirawat. Lanjutkan penanganan dan observasi kesehatan janin
7)    Jika terdapat tanda-tanda pertumbuhan janin terhambat, pertimbangkan terminasi kehamilan. Jika tidak rawat sampai aterm
8)    Jika proteinuri meningkat, tangani sebagai preeklampsia berat
Kehamilan lebih dari 37 minggu
1)    Jika serviks matang, pecahkan ketuban dan induksi persalinan dengan oksitosin atau prostaglandin
2)    Jika serviks belum matang, lakukan pematangan dengan prostaglandin atau kateter foley atau lakukan seksio sesaria.

b.    Preeklampsia berat
1)    Semua kasus preeklampsia berat harus ditangani secara aktif. Penanganan konservatif tidak dianjurkan karena gejala dan tanda eklampsia seperti hiperrefleksia dan gangguan penglihatan sering tidak terjadi.
2)    Penanganan umum :
a)    Jika tekanan diastolic tetap ≥ 110 mmHg,berikan obat anti hipertensi sampai tekanan diastolik di antara 90-100 mmHg
b)    Pasang infuse dengan jarum besar (16 gauge atau lebih besar)
c)    Ukur keseimbangan cairan, jangan sampai terjadi overload cairan
d)    Kateterisasi urin untuk memantau pengeluaran urin dan proteinuri
e)    Jangan tinggalkan pasien sendirian. Kejang disertai muntah dapat mengakibatkan kematian ibu dan janin
f)     Observasi tanda-tanda vital, reflex, dan denyut jantung janin setiap jam
g)    Auskultasi paru untuk mencari tanda-tanda edema paru
h)   Hentikan pemberian cairan IV dan berikan diuretic misalnya furosemid 40 mg IV sekali saja jika ada edema paru

3)    Penanganan kejang dengan pemberian antikonvulsan Magnesium Sulfat (MgSO4) dengan dosis :
a)    Sebelum pemberian MgSO4 periksa :
(1)  Frekuensi pernapasan minimal 16 x/menit
(2)  Reflex patella (+)
(3)  Urin minimal 30 ml/jam dalam 4 jam terakhir
b)    Siapkan antidotum :
(1)  Jika terjadi henti napas lakukan ventilasi dengan menggunakan masker dan balon ventilator
(2)  Beri kalsium glukonat 1 g (20 ml dalam larutan 10%) IV perlahan-lahan sampai pernapasan mulai lagi.
c)    Dosis awal :
(1)  MgSO44 g IV dalam larutan 40% selama 5 menit
(2)  Segera dilanjutkan dengan pemberian 10 g larutan MgSO4 50%, masing-masing 5 g di bokong kanan dan kiri secara IM dalam, ditambah 1 ml lignokain 2% pada semprit yang sama. Pasien akan merasa agak panas sewaktu pemberian MgSO4.
(3)  Jika kejang berulang setelah 15 menit, berikan MgSO42 g (larutan 40%) IV selama  menit.
d)    Dosis pemeliharaan :
(1)  MgSO41-2 g / jam per infuse, 15 tetes/menit atau 5 g MgSO4 IM tiap 4 jam.
(2)  Lanjutkan pemberian MgSO4 sampai 24 jam pasca persalinan atau kejang berakhir.
e)    Hentikan pemberian MgSO4 jika :
(1)  Frekuensi pernapasan < 16 x/menit
(2)  Refles patella (-)
(3)  Urin < 30 ml/jam dalm 4 jam terakhir
4)    Jika MgSO4 tidak tersedia dapat diberikan diazepam IV dengan resiko terjadinya depresi pernapasan neonatal. Pada dosis tunggal tidak menimbulkan depresi pernapasan.kecuali jika pemberian secara terus menerus secara IV
a)    Dosis awal diazepam :
(1)  Diazepam 10 mg IV pelan-pelan selama 2 menit
(2)  Jika kejang berulang ulangi dosis awal
b)    Dosis pemeliharaan :
(1)  Diazepam 40 mg dalam 500 ml larutan Ringer Laktat per infuse
(2)  Depresi pernapasan ibu mungkin akan terjadi jika dosis > 30 mg/jam
(3)  Jangan berikan > 100 mg/24 jam
c)    Pemberian melalui rektum
(1)  Jika pemberian IV tidak mungkin, diazepam dapat diberika per rectal dengan dosisi awal 20 mg dalam semprit 10 ml tanpa jarum
(2)  Jika kejang tidak teratasi dalam 10 menit, beri tambahan 10 mg/jam atau lebih, tergantung pada berat badan pasien dan respon klinik pasien

Referensi :
Saifuddin AB. 2006. Buku Acuan Maternal dan Neonatal. YBPSP. Jakarta