Friday, January 6, 2012

Teori : Gagal Ginjal Kronik

Gagal Ginjal Kronik
a. Pengertian
Gagal Ginjal Kronik adalah suatu kegagalan fungsi ginjal yang bealangsung perlahan-lahan, karena penyebab yang berlangsung lama serta tidak dapat menutupi kebutuhan yang biasa lagi dan menimbulkan gejala sakit (Junaedi, 2000).
Sedangkan menurut Suharjono (2001) Gagal Ginjal Kronik adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif dan cukup lanjut, hal ini terjadi apabila laju filtrasi glomerolus (LFG) kurang dari 50 ml/menit.
Mansjoer (2001) mendefinisikaan gagal ginjal kronik adalah penyakit renal tahap akhir merupakan gangguan fungsi renal yang progresif danirreversibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrlit menyebakan uremia (retensi ureum dan sampah nitrogen lain dalam darah).
b. Penyebab
Menurut Mansjoer (2001) penyebab gagal ginjal kronik adalah glomerulonefritik, nefropati analgesik, nefropati refluks, ginjal polikistik, nefropati diabetic dan penyebab lain seperti hipertensi, obstruksi dan gout serta tidak diketahui.
c. Patofisiologi
Pada gagal ginjal kronik fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein yang normalnya dikeluarkan ke dalam urin tertimbun dalam darah terjadi uremia (normal ureum serum adalah 20 – 40 mg/dl) dan mempengaruhi setiap system tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah maka gejala semakin berat. Penurunan jumlah glomeruli normal menyebabkan penurunan klirens subtansi darah yang seharusnya dibersihkan oleh ginjal. Dengan menurunnya laju filtrasi glomerular (LFG) menyebabkan penurunan klirens kreatinin dan menyebakan peningkatan kadar kreatinin serum (normal 0,5 – 1,5 mg/dl ). Hal ini mengakibatkan gangguan protein dalam usus yang menyebabkan anoreksia, nauseae dan vomitus sehingga mengakibatkan penurunan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Peningkatan ureum kreatinin ke otak mempengaruhi fungsi kerja mengakibatkan gangguan saraf terutama neurosensori. Pada penyakit ginjal tahap akhir urin tidak dapat dikonsentrasikan atau diencerkan secara normal sehingga terjadi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Natrium dan cairan tertimbun sehingga meningkatkan resiko gagal jantung kongestif. Penderita dapat menjadi sesak napas akibat ketidakseimbangan suplai oksigen dengan kebutuhan. Semakin menurunnya fungsi renal mengakibatkan asidosis metabolic akibat ginjal mengeksresikan muatan asam (H+) yang berlebihan. Penurunan produksi eritropoetin mengakibatkan terjadinya anemia. Dengan menurunya filtrasi melalui glomerulus terjadi peningkatan kadar fosfat dan menurunkan kadar kalsium serum menyebabkan sekresi kadar parathormon dari kelenjar paratiroid. Laju penurunan fungsi ginjal dan perkembangan gagal ginjal berkaitan dengan gangguan yang mendasari, eksresi protein dan urin dan adanya hipertensi (Brunner dan Suddarth, 2001)
d. Tanda dan Gejala
Pada umumnya gejala baru nampak apabila faal ginjal sudah sesemikian rupa sehingga kadar ureum serum lebih dari 100 mg/dl. Pada penderita yang lanjut didapatkan keadaan umum yang jelek, pucat, hiperpigmentasi di kulit, pernafasan kussmaul, mulut dan bibir kering, twitching otot, tetani, kesadaran yang makin menurun sampai koma. Gejala gastro intestinal berupa mual dan mjuntah merupakan gejala yang dini. Anemia pada gagal ginajal kronik karena berbagai factor seperti kekurangan ertropoietin, toksisitas ke sum-sum tulang yang disebabkan oleh zat sisa yang emnumpuk dalam darah, umur eritrosit yang memendek, perdarahan-perdarahan yang tidak nampak dan anoreksia.
e. Perawatan
Pada umumnya keadaan gagal ginjal kronik sudah sedemikian rupa sehingga etiologi tidak dapat diobati. Usaha yang dilakukan adalah mengurangi gejala serta memburuknya fungsi ginjal dengan cara :
1) Pengaturan minum
2) Pengendalian hipertensi
3) Pengendalian kalium darah
4) Penanggulangan anemia
5) Penanggulangan asidosis
6) Pengobatan dan pencegahan infeksi
7) Pengaturan protein dalam makanan
8) Pengobatan neuropati
9) Dialisa
10) Transplantasi
(Bunner dan Sudarth, 2001)

Diposting oleh : Y. P. Rahayu yang diambil dari berbagai sumber

12 MITOS YANG SALAH MERAWAT BAYI




            Mengasuh atau merawat bayi lahir bukan merupakan tindakan yang sederhana. Dalam praktik perawatan, banyak orang tua yang sering salah dalam merawat bayi. Beberapa praktik perawatan bayi yang mengikuti kebiasaan turun-temurun, selain kurang bisa diterima secara ilmiah, juga bisa merugikan bagi bayi. Nah, sebagai wanita yang nantinya adalah sebagai calon ibu hendaknya kita mengetahui berbagai mitos yang berkembang di masyarakat.
1. Dipakaikan gurita agar tidak kembung
       Mitos ini tidak benar, karena organ dalam tubuh bayi malah akan kekurangan ruangan untuk tumbuh dan berkembang. Akibatnya pertumbuhan organ-organ ini akan terhambat. Kalau mau tetap memakaikan gurita boleh saja, ASAL ikatan bagian atasnya dilonggarkan, sehingga jantung dan paru-paru bisa berkembang dengan optimal.
2. Tidak boleh memotong kuku bayi sebelum usia 40 hari
       Tentu ini tidak tepat! Kalau tidak dipotong, kuku yang panjang itu bisa bisa beresiko melukai wajah dan mata bayi. Larangan ini mungkin lebih disebabkan kekhawatiran akan melukai kulit jari tangan atau kaki bayi saat ibu menggunting kukunya. Maka sebaiknya digunakan gunting kuku khusus bayi yang lebih aman dan harus dilakukan dengan hati-hati.
3. Pusar ditindih koin agar tidak bodong
       Secara ilmiah memang ada benarnya, tapi koin hanya alat untuk menekan saja. Kalau bodongnya besar harus dioperasi, tapi kalau bodongnya kecil boleh ditindih dengan koin, asal pusar bayi diberi kassa steril yang diganti setiap hari dan diikat di belakang.
4. Dibedong agar kaki lurus
       Bedong bisa membuat peredaran darah bayi terganggu karena kerja jantung memompa darah menjadi sangat berat. Dipakaikannya bedong sama sekali tak ada kaitannya dengan pembentukan kaki. Semua kaki bayi baru lahir memang bengkok karena dalam perut ibu tidak ada ruangan cukup bagi bayi untuk meluruskan kaki. Sehingga waktu lahir kakinya masih bengkok. Lama-kelamaan kaki bayi akan lurus dengan sendirinya tanpa harus dibedong.
5. Bayi usia seminggu diberi makan pisang dicampur nasi agar tidak kelaparan
       Salah, pasalnya usus bayi belum mampu mencerna makanan pada awal-awal usianya. Akibatnya, bayi jadi sembelit. Makanan padat pertama dapat diberikan setelah bayi berusia 6 bulan, misalnya bubur susu atau pisang lumat.
6. Hidung ditarik-tarik agar mancung
       Ini jelas salah! Karena mancung tidaknya hidung seseorang ditentukan oleh bentuk tulang hidung yang sifatnya bawaan. Jadi, meski setiap menit ditarik-tarik, kalau memang tulang hidungnya tidak mancung maka tidak akan berubah. Hal ini malah akan menambah kesakitan pada hidung bayi.
7. Sedikit membuang ASI sebelum menyusui
       Menurut orang tua zaman dulu, tidak baik memberikan ASI lama (basi) kepada bayi, sehingga kalau hendak menyusui harus membuang sedikit ASI. Mungkin karena warna ASI yang kekuningan itu yang dianggap orang basi. Padahal ASI tidak pernah basi. ASI yang berwarna kekuningan kental yang keluar pada hari pertama disebut kolostrum. Justru ASI yang kekuningan inilah yang paling tinggi kandungan nutrisinya yang tidak dapat ditandingi oleh susu formula.
8. Bayi tidak boleh dimandikan jika tali pusatnya belum lepas
       Justru tali pusat harus dibersihkan lalu dikeringkan dan dibungkus dengan kassa steril. Memandikan bayi sambil merawat tali pusat. Kalau bayi tidak dimandikan atau tali pusat akan ditumbuhi kuman-kuman dan bisa menyebabkan infeksi pada bayi.
9. Kepala bayi perlu diberi bedak agar tidak gampang pilek
       Mitos ini sangat aneh dan tidak masuk akal. Tidak ada hubungannya antara pilek dengan bedak. Bedak ini malah nantinya akan menyebabkan kerak di kepala dan merupakan media kuman tumbuh bila kepala tidak dibersihkan.
10. Bayi harus diberi susu lebih kental agar cepat gemuk
       Suatu anggapan yang keliru. Susu kental tidak dapat dicerna dan menyebabkan endapan susu di lambung, sehingga bayi menjadi cepat muntah dan menyebabkan bayi sulit BAB.
11. Air tajin sebagai pengganti ASI
       Ingat! Air tajin bukanlah susu, karena kandungan nutrisinya sangat kurang, sedangkan bayi memerlukan nutrisi yang cukup untuk pertumbuhan. Jadi jangan mengganti ASI dengan air tajin.
12. Tidak boleh keluar rumah sebelum 40 hari
       Mungkin yang tepat adalah jangan pergi ke tempat yang penuh orang. Banyak orang berarti banyak kuman penyakit. Karena kekebalan bayi masih sangat rentan saat usianya dibawah 40 hari. Jangan membawa bayi ke tempat yang ramai, kecuali memang sangat penting dan hanya sebentar.

Thursday, January 5, 2012

PIJAT BAYI, BOLEH ATAU TIDAK?




           Pijat bayi merupakan terapi sentuhan tertua dan terpopuler yang dikenal manusia, yang juga merupakan seni perawatan kesehatan dan pengobatan yang dipraktikkan sejak berabad-abad silam. Seni pijat untuk pengobatan sudah tercatat di Papyrus Ebers, yaitu catatan kedokteran zaman Mesir Kuno. Di India sekitar tahun 1800 SM, seni pijat bayi ini telah ada dan dicatat dalam buku Ayur Veda. Demikian pula di Cina, sejak zaman Dinasti Tang pijat bayi diyakini dapat memberi pengaruh yang positif pada tubuh manusia. Ilmu kesehatan modern juga telah membuktikan bahwa terapi sentuhan dan pijat pada bayi dapat mempengaruhi kenaikan berat badan bayi sebesar 9,44%. Hebatnya lagi, bayi-bayi prematur yang setiap harinya diberikan pijatan selama 15 menit akan tumbuh dan mengalami kenaikan berat badan 47% lebih cepat daripada mereka yang tidak dipijat.
            Di Indonesia, pelaksanaan pijat bayi di masyarakat desa masih dipegang peranannya oleh dukun bayi. Padahal apabila bayi ini dipijat sendiri oleh orang tuanya akan memberikan manfaat yang lebih baik daripada bayi dipijat oleh dukun, karena akan timbul hubungan emosional, tercipta kasih sayang, dan ikatan batin yang sehat (secure attachment) antara bayi dan orang tua, terutama dalam usia 3 tahun pertama yang akan menentukan perkembangan kepribadian anak selanjutnya. Sedangkan pijatan yang paling bermanfaat adalah ketika bayi berumur enam atau tujuh bulan. Pemijatan bisa dilakukan dua kali sehari, yang penting dalam suasana nyaman. Ini merupakan bagian dari parenting, bukan pengobatan.
            Pijat pada bayi dilakukan tidak seperti pijat untuk orang dewasa, tetapi lebih banyak menekankan pada sentuhan (stimulus touch). Pemijatan yang dilakukan secara benar tidak hanya bermanfaat untuk bayi sehat saja, tapi juga bagi bayi yang sakit atau kurang sehat. Bahkan, bayi prematur pun perlu dipijat. Karena pijat bayi ini memiliki banyak sekali manfaat, antara lain meningkatkan berat badan bayi, mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan bayi, meningkatkan daya tahan tubuh, meningkatkan produksi ASI, memperbaiki sirkulasi darah, mengurangi kembung, dan mencegah depresi pada bayi.
            Paradigma bahwa pijat bayi adalah perawatan spa gaya baru untuk bayi-bayi bagi keluarga kaya harus segera ditepis, dan pijat bayi ini hendaknya dilakukan oleh keluarga yang mempunyai bayi dari berbagai kelas. Secara tidak sadar, kita telah melakukan pijatan pada bayi seusai memandikan, yakni ketika mengolesi tubuh si kecil dengan minyak telon. Sentuhan-sentuhan itu merupakan hal yang disukai karena memberikan rasa nyaman bagi bayi. Secara ilmiah, pijatan memberi stimulus pada hormon di dalam tubuh yang mengatur fungsi-fungsi seperti nafsu makan, tidur, ingatan dan belajar, pengaturan temperatur tubuh, mood, perilaku, pembuluh darah, pertumbuhan, dan depresi.
            Layaknya makanan yang baik untuk bayi, pijat bayi sama pentingnya dengan vitamin dan mineral. Di Jawa sering kita mengenal adanya dukun pijat bayi yang memiliki keahlian memijat bayi. Seorang dukun pijat bayi yang penulis temui memberikan keterangan yang sama terhadap manfaat pijatan pada bayi. Beliau pun memberikan nasehat kepada penulis agar tidak perlu khawatir melakukan kesalahan fatal dalam memijat bayi. Yang perlu diingat adalah tubuhnya yang kecil dan tulangnya yang masih lunak sehingga ketika Anda memberikan pijatan kepada bayi, kelembutan gerakan tangan merupakan kunci sukses.