Wednesday, August 18, 2010

SITOLITIK VAGINOSIS

SITOLITIK VAGINOSIS

APA YANG DIMAKSUD DENGAN SITOLITIK VAGINOSIS ( cytolitic vaginosis )
Sitolitik vaginosis tidak jarang merupakan penyebab penyakit keputihan pada wanita.
APA PENYEBAB SITOLITIK VAGINOSIS ? Dalam keadaan normal, pada vagina wanita dewasa terdapat koloni laktobasilus. Bakteri ini memproduksi asam laktat yang mempertahankan keasaman vagina dan kandungan hidrogen peroksida yang

Wednesday, June 23, 2010

perawatan luka bakar terinfeksi

A. Pengertian
Perawatan pasien luka bakar yang terinfeksi adalah suatu tindakan keperawatan membersihkan luka yang terinfeksi sehingga dapat membantu proses penyembuhan.

B. Tujuan
1. Mencegah atau mengobati syok
2. Mencegah dan mengobati infeksi dan sepsis
3. Mencegah parut hipertropik
4. Mempercepat proses penyembuhan
5. Memperbaiki bagian integritas kulit yang rusak


C. Dilakukan pada/ Indikasi
1. Luka bakar derajat I ( Infeksi )
2. Luka bakar derajat II ( Infeksi )
3. Luka bakar derajat III ( Infeksi )



1. Baki steril berisi :
- Sarung tangan steril
- Pinset sirurgis
- Kasa steril
- Gunting
- Spuit 5 cc


2. Baki tidak steril berisi :
- Bengkok
- Perlak dan alasnya
- Cairan NaCl 0, 9%
- Cairan salvon 1%
- Silet atau alat cukur
- Sarung tangan tidak steril
- Salep Silver Sulfa Diazine ( SSD )
- Salep antibiotic
- Gunting verban
- Korentang dalam tempatnya
- Plester
- Betadin sol 2%


E. Prosedur pelaksanaan

1. Beritahu pasien
2. Membawa alat-alat kedekat pasien
3. Cuci tangan
4. Memasang perlak dan alsnya dibawah daerah luka bakar
5. Memakai sarung tangan tidak steril
6. Membersihkan luka dengan cairan salvon 1%
7. Cukur rambut pada daerah sekitar luka bakar
8. Bersihkan luka dengan meggunakan caiaran salvon 1%
9. Membuka sarung tangan tidak steril dan memakai sarung tangan steril
10. Lakukan nekrotomi atau debridemen jaringan nekrosis dengan menggunakan pinset dan gunting
11. Apabila ada bula dibiarkan utuh sampai hari ke lima post luka bakar
12. Apabila bula pada daerah sendi dipecahkan dengan spuit steril kemudian lakukan nekrotomi
13. Jika banyak post bersihkan dengan betadin sol 2%
14. Bilas dengan cairan NaCl 0, 9%
15. Luka dikeringkan dengan kasa steril
16. Oleskan salep antibiotic pada luka secara merata
17. Tutup dengan kasa steril kemudian di fiksasi dengan plester ( perwatan tertutup atau biarkan terbuka )
18. Membuka sarung tangan
19. Rapikan pasien
20. Rapikan alat-alat dan kembalikan ketempatnya
21. Cuci Tangan
22. Dokumentasi




F. Perhatian

1. Cermat dalam menjaga kesterillan
2. Mengangkat jaringan nekrosis sampai bersih
3. Peka terhadap privasi pasien
4. Teknik pengangkatan jaringan nekrosis disesuaikan dengan tipe luka bakar
5. Perhatikan teknik aseptik


G. Sikap

1. Bekerja secara sistimatis
2. Hati-hati dalam bekerja
3. Berkomonikasi dengan pendekatan yang tepat dan sesui dengan kondisi pasien
4. Pempertahankan prinsip kerja
5. Kerjasama antara pasien dan perawat selalu dijaga
6. Tanggap terhadap respons
7. Menjaga privasi

PEMERIKSAA TINGKAT KESADARAN

A. Persiapan alat
1. Buku catatan
2. Alat tulis

B. Pelaksanaan
Tk. Kesadaran berdasarkan Responsitivitas
1.Tanyakan kepada pasien ; nama, tempat dimana ia berada sekarang, orang yang membawanya ke rumahsakit dan waktu (catat responnya).
2.Amati keadaan pasien, apakah pasien acuh dengan keadaan sekitar, apakah dalam keadaan mengantuk atau tertidur, apakah ada aktivitas psikomotor (spt ; gaduh gelisah, meronta-ronta).
3.Apabila pasien dalam keadaan tertidur, lakukan rangsangan dengan cara dipanggil namanya sambilmenepuk bagian tubuh pasien (catat responnya).
4.Apabila dengan rangsangan, mata tidak dapat terbuka/tetap dalam keadaan tertutup. Amati adanyareflex jika pasien diberi rangsangan nyeri, amati pula apakah ada inkontinensia atau tidak
5.Periksa kembali apakah ada respon terhadap nyeri, reflex tendon, pupil dan reflex batuk serta ada .tidaknya inkontinensia urin/alvi
6.Tentukan tingkat kesadaran pasien
7.Dokumentasikan hasil pemeriksaan pada catatan perawatan.

Tk. Kesadaran berdasarkan GCS :
1.Amati spontanitas pasien dalam membuka mata.
2.Jika mata dalam keadaan tertutup, pasien dipanggil namanya, jika tidak membuka mata dilanjutkan dengan memberikan rangsangan nyeri, amati
apakah pasien membuka mata atau tidak (catat responnya)
3.Amati gerakan/motorik pasien, apakah;
* Dapat mengikuti perintah dari pemeriksa.
*Dapat mengetahui lokasi nyeri yang dirangsang oleh pemeriksa
*Ada reaksi menghindar dari nyeri dan apakah respon sesuai dengan stimulus yang diberikan.
keadaan fleksi sempurna diatas dada atau tungkai .
mungkin ekstensi kaku
* Adanya ekstensi abnormal, salah satu atau kedua tangan ekstensi (catat responnya).
4.Amati setiap interaksi yang dilakukan, apakah ;
*Pasien dapat menjawab setiap pertanyaan dgn baik.
*Atau terlihat bingung saat interaksi
*Kata-kata yang dikeluarkan pasien tidak dapat dimengerti oleh pemeriksa
• * Suara yang dikeluarkan tidak jelas.
• *Atau tidak ada respons.
5.Tentukan tk. Kesadaran pasien berdasarkan respon-respon tersebut (mata, motorik dan verbal).
6.Dokumentasikan hasil pemeriksaan pada catatan perawatan.