Sunday, January 8, 2012

Teori : Jenis Persalinan

Jenis Persalinan
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang dapat hidup ke dunia luar dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain (Mohtar dalam Sukasdiman, 2007).
Persalinan adalah suatu proses alami yang ditandai oleh terbukanya servik, diikuti dengan lahirnya bayi dan plasenta melalui jalan lahir (Depkes RI, 2001).
b.a. Jenis Persalinan
1) Persalinan Normal
Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada waktu kehamilan cukup bulan (37 – 42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun janin (Saifuddin, 2002).
Persalinan normal terjadi jika bayi lahir dengan presentasi belakang kepala tanpa memakai alat-alat atau pertolongan istimewa dan umumnya berlangsung dalam waktu 18 jam atau kurang dari 24 jam tanpa komplikasi apapun (Endjun, 2002).
Persalinan dibagi dalam 4 kala, yaitu :
a) Kala I
Dimulai dari saat persalinan mulai sampai pembukaan lengkap (10 cm). Proses ini dibagi dalam 2 fase, fase laten (8 jam) serviks membuka sampai 3 cm dan fase aktif (7 jam) serviks membuka dari 3 sampai 10 cm. Kontraksi lebih kuat dan sering selama fase aktif (Saifuddin, 2002).
b) Kala II
Pada kala pengeluaran janin, his terkoordinasi, kuat, cepat, dan lebih lama kira-kira 2 – 3 menit sekali. Kepala janin telah turun masuk ruang panggul sehingga terjadilah tekanan pada otot-otot dasar panggul yang secara refelektoris menimbulkan rasa mengedan karena tekanan pada rektum, ibu seperti mau buang air besar dengan tanda anus terbuka. Pada waktu his, kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka dan verineum menegang dan his mengedan yang terpimpin, akan lahirnya kepala, diikuti oleh seluruh janin. Kala II pada ibu primivara 1 ½ - 2 jam dan pada multivara ½ - 1 jam (William, 2002).


c) Kala III
Setelah bayi lahir, kontraksi rahim sebentar. Uterus terasa keras dengan fundus uteri setinggi pusat, dan berisi plasenta yang menjadi tebal 2 kali sebelumnya. Beberapa saat kemudian, timbul his pelepasan dan pengeluaran uri. Dalam waktu 1 – 5 menit seluruh plasenta terlepas, terdorong ke dalam vagina dan akan lahir spontan atau dengan sedikit dorongan dari atas simfisis atau fundus uteri. Seluruh proses biasanya berlangsung 5 – 30 menit setelah bayi lahir. Pengeluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah kira-kira 100 – 200 cc (Mochtar dalam Sukasdiman, 2007).
d) Kala IV
Dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama postpartum.
Tujuan asuhan persalinan adalah memberikan asuhan yang memadai selama persalinan perhatikan aspek sayang ibu dan sayang bayi.
(Saifuddin, 2002).
Diagnosis persalinan meliputi hal-hal sebagai berikut :
1) Diagnosis dan konfirmasi saat persalinan
1)2) Diagnosis tahap dan fase dalam persalinan
1)3) Penilaian masuk dan turunnya kepala di rongga panggul
1)4) Identifikasi presentasi dan posisi janin
(Saifuddin, 2004)
2) Persalinan Abnormal
a) Seksio Sesarea
Seksio sesarea adalah suatu tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat di atas 500 gram, melalui sayatan pada dinding uterus yang masih utuh (Saifuddin, 2000).
Sebelum keputusan untuk melakukan seksio sesarea diambil, pertimbangkan secara teliti indikasi dengan resiko yang mungkin terjadi (perdarahan, cedera saluran kemih atau usus, infeksi). Pertimbangan tersebut harus berdasarkan penilaian prabedah secara lengkap, mengacu pada syarat-syarat pembedahan dan pembiusan. Ketentuan tersebut dapat dilakukan apabila menghadapi kasus gawat darurat di mana kecepatan waktu untuk melakukan tindakan sangat mempengaruhi keluaran prosedur operatif (Saifuddin, 2000).
Mortalitas / morbilitas bayi yang lahir dengan seksio sesarea lebih besar bila dibandingkan dengan bayi lahir spontan. Hal ini disebabkan oleh :
(1) Indikasi seksio sesar pada ibu sering merupakan keadaan yang telah menyebabkan hipoksia pada bayi sebelum lahir.
(1)(2) Obat anestesia yang diberikan pada ibu sedikit banyak akan mempengaruhi bayi
(1)(3) Kemungkinan trauma yang terjadi pada waktu operasi
(1)(4) Seksio sesarea yang dikerjakan pada bayi prematur, ketuban pecah lama, infeksi intrapartum dan lain-lain akan mempunyai resiko terhadap bayi (Latief dalam Sukasdiman, 200-9).

b) Ekstraksi Vakum
Ekstraksi vakum merupakan tindakan obstetrik yang bertujuan untuk mempercepat kala pengeluaran dengan sinergi tenaga mengendan ibu dan ekstraksi pada bayi. Oleh karena itu, kerjasama dan kemampuan ibu untuk mengekspresikan bayinya, merupakan faktor yang sangat penting dalam menghasilkan akumulasi tenaga dorongan dengan tarikan ke arah yang sama. Tarikan pada kulit kepala bayi, dilakukan dengan membuat cengkraman yang dihasilkan dari aplikasi tekanan negatif (vakum). Mangkuk logam atau silastik akan memegang kuilit kepala yang akibat tekanan vakum, menjadi kaput artifisial. Mangkuk dihubungkan dengan tuas penarik (yang dipegang oleh penolong persalinan), melalui seutas rantai. Ada 3 gaya yang bekerja pada prosedur ini, yaitu tekanan intrauterin (oleh kontraksi), tekanan ekspresi eksternal (tenaga mengendan), dan gaya tarik (ekstraksi vakum) (Saifuddin, 2000).


Syarat khusus dalam melakukan ekstraksi vakum, yaitu :
(1) Pembukaan lengkap atau hampir lengkap
(1)(2) Presentasi kepala
(1)(3) Cukup bulan (tidak prematur)
(1)(4) Tidak ada kesempitan panggul
(1)(5) Anak hidup dan tidak gawat janin
(1)(6) Penurunan H III / III + (puskesmas H IV / dasar panggul)
(1)(7) Kontraksi baik
(1)(8) Ibu kooperatif dan masih mampu untuk mengedan (Saifuddin, 2000).

c) Simfisiotomia
Simfisiotomia adalah pembedahan dengan cara memotong sendi simfisis, sehingga bagian kiri dan kanannya terpisah dan rongga panggul menjadi lebih lebar. Dengan demikian pembedahan ini dilakukan pada panggul sempit. Dengan makin pentingnya peranan secsio sesarea, maka simfisiotomia pada saat ini jarang dilakukan bahkan di Indonesia pembedahan ini boleh dikatakan tidak dilakukan (Mohtar, 1998).



d) Embriotomi
Embriotomi adalah suatu cara pembedahan dengan jalan melukai atau merusak janin, memungkinkan janin dilahirkan pervaginam. Pada umumnya embriotomi dilakukan pada janin yang sudah meninggal (Yuliana, 2005).
Ada beberapa jenis embriotomi, diantaranya :
(1) Kraniotomi
Kraniotomi dilakukan dengan membuat lubang pada kepala janin. Biasanya sesudah itu kepala janin dipegang dengan kranioklas braun dan ditarik ke bawah mengikuti arah sumbu panggul. Dengan keluarnya otot dari lubang yang dibuat, kepala mengecil dan dapat dilahirkan (Yuliana, 2005).
(2) Dekapitasi
Dekapitasi dilakukan pada persalinan yang macet pada letak lintang dan janin sudah meninggal. Dengan tindakan ini leher janin dipotong, sehingga badan terpisah dari kepala.
(3) Eviserasi
Eviserasi adalah tindakan untuk mengeluarkan isi perut dan dada janin yang sudah meninggal. Tindakan ini dilakukan pada letak lintang, apabila leher janin tidak dapat dipegang dari bawah atau pada monstrum yang karena besarnya perut atau dada tidak dapat lahir (Julian, 2003).
(4) Kleidotomi
Tindakan ini dilakukan setelah janin pada presentasi kepala dilahirkan, akan tetapi dialami kesulitan untuk melahirkan bahu karena terlalu lebar. Setelah janin meninggal, tidak ada keberatan untuk melakukan kleidotomi (memotong klavikula) pada satu atau kedua klavikula (Julian, 2003).

Diposting oleh : Y. P. Rahayu yang diambil dari berbagai sumber

No comments:

Post a Comment