Thursday, January 24, 2013

ASKEP EFUSI PLEURA

PENGERTIAN
Efusi pleura adalah terdapatnya penumpukan cairan dalam pleura berupa transudat atau eksudat yang diakibatkan karena terjadinya ketidakseimbangan antara produksi dan absorpsi di kapiler dan pleura viseralis.

ETIOLOGI
1.Transudat, dapat disebabkan oleh kegagalan jantung kongestif, sindrom
nefrotik, asites.
2.Eksudat, dapat disebabkan oleh infeksi, TB, pnemonia, infark paru.
3.Effusi hemorragis, dapat disebabkan oleh adanya tumor, trauma, infark
paru, tuberkulosis.

PATOFISIOLOGI
Dalam keadaan normal terdapat 10-20 ml cairan di dalam rongga pleura. Jumlah cairan tetap dengan tekanan hidrostatis pleura parietal 9 cm H2O. Akumulasi cairan terjadi bila tekanan osmotik koloid menurun, misalnya hipoalbuminemia dan bertambahnya permeabilitas kapiler akibat proses peradangan atau neoplasma, bertambahnya tekanan hidrostatis akibat kegagalan jantung dan tekanan negatif intra pleura apabila terjadi atelektasis paru.

Penumpukan cairan pleura akibat proses :
 Hambatan drainase limfatik dari rongga pleura
 Gagal jantung menyebabkan tekanan kapiler paru perifer sangat tinggi
 Menurunnya tekanan osmotik koloid plasma
 Adanya proses infeksi pada permukaan pleura yang memecahkan membran kapiler dan pengaliran protein plasma secara cepat.

PENATALAKSANAAN MEDIKAL
 Ditujukan pada pengobatan penyakit dasar dan pengosongan cairan (Torakosentesis) dengan indikasi : menghilangnya sesak nafas oleh akumulasi cairan, terapi sfesifik pada penyakit primer tidak efektif, dan reakumulasi cairan.


PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN

Diagnosa Keperawatan :

1. Ketidakefektifan pola nafas bd menurunnyaekspansi paru sekunder terhadap penumpukan cairan dalam rongga pleura.
Tujuan :
Dalam 2 x 24 jam setelah tindakan pasien mampu mempertahankan fungsi paru normal, ditandai ; irama, frekuensi, kedalaman nafas batas normal, pemeriksaan sinar x tidak akumulasi cairan , bunyi nafas terdengar jelas.

Intervensi Keperawatan :
1. dentifikasi faktor penyebab
2. Kaji kualitas, frekuensi, kedalaman nafas dan laporkan setiap perubahan.
3. Baringkan posisi duduk atau miringkan ke arah sisi yang sakit.
4. Observasi tanda-tanda vital (nadi, RR).
5. Lakukan auskultasi suara nafas tiap 2-4 jam.
6. Bantu dan ajarkan pasien untuk batuk dan nafas dalam yang efektif.
7. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian O2 dan foto thorax
8. Kolaborasi untuk tindakan torakosintesis.
2.Ketidakefektifan bersihan jalan nafas bd sekresi mukus yang kental, kelemahan upaya batuk, edema trakeal/faringeal.

Tujuan :
Kebersihan jalan nafas kembali efektif, ditandai ; mampu batuk efektif, nafas 16-20 x/menit tanpa obat bantu, bunyi nafas normal, ronche negatif, gerak nafas normal.

Intervensi Keperawatan :
1. Kaji fungsi nafas (bunyi, kecepatan, irama, kedalaman).
2. Kaji kemampuan mengeluarkan sekresi, catat karakter dan volume sputum.
3. Berikan posisi semi fowler dan bantu latihan nafas dalam dan batuk efektif.
4. Pertahankan asupan cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali tidak diindikasikan.
5. Bersihkan sekret dari mulut dan trakhea, bila perlu lakukan penghisapan (suction).
6. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi ; antibiotik, agen mukolitik, bronkodilator, kortikosteroid.

Materi Kuliah KMB II

No comments:

Post a Comment