Sunday, August 19, 2012

Kebutuhan Pola Tidur Manusia

Para ilmuwan mengatakan mereka telah menemukan bukti lebih banyak bahwa kebiasaan bangun pagi dan bangun siang, hal itu terjadi disebabkan oleh gen perorangan. Peneliti mengatakan penemuan tersebut telah membantu memahami lebih baik bagaimana tubuh manusia bekerja, dan pengaruhnya dalam ganguan tidur. Seperti kata orang, tidur lebih awal, bangun juga lebih awal. Namun dalam dunia peneliti masalah tidur, hal itupun bisa disebut sebagai penyakit, sama seperti gejala yang dirasakan orang yang sulit tidur dimalam hari (Tjokronegoro, 2006).
Tubuh manusia bekerja dengan siklus 24 jam. Mekanisme alamiah ini dikenal dengan istilah ritme circadian, yang menentukan berapa lama kita tidur dan kapan. Para peneliti, menemukan suatu kerusakan dalam gen yang dikenal sebagai Per-per yang mengatur ritme Circadian itu. Dalam The Journal Nature, Ptacek dan rekannya pada Howard Hughes Institute, Universitas Califirnia di San Fransisco melaporkan penemuan mutasi gen yang lainnya pada gen lain yang dikenal sebagai CK1 Delta. "Jika Anda bayangkan hal itu seperti perputaran roda-roda bergigi dalam jam, kalau gerakannya terlalu cepat mungkin ada masalah dalam salah satu roda atau dalam gen Per-per, mungkin juga terjadi mutasi dalam roda yang berbeda, dalam kasus ini, CK1 Delta," jelas Ptacek yang menemukan adanya gen yang rusak dalam keluarga orang-orang yang bangun pagi. Ketika gen tersebut dimasukkan kedalam tubuh tikus, binatang tersebut menunjukkan tingkah laku yang serupa. Ketika gen yang sama di suntikkan kepada lalat buah, itu mengacaukan ritme circadian mereka. Ptacek mengatakan menggunakan gen yang sama untuk mempelajari tingkah laku spesies yang berbeda mungkin akan medorong penemuan mekanisme molekular yang terlibat dalam gangguan tidur. Ia memperkirakan 3 dari 10 orang memiliki beberapa bentuk ganguan tidur (Isamani, 2000).
Riset tentang gen yang mengatur jam tubuh dapat mengarah pada ditemukannya obat ganguan tidur pada orang-orang itu. "Seiring bertambahnya usia, kita semua memiliki kecenderungan untuk tidur lebih awal dan bangun lebih dini. Dalam beberapa kasus, hal tersebut menjadi masalah bagi para manula yang terbangun ketika udara dingin, cuaca gelap dan kesepian. Jadi penemuan yang kita sebut normal dengan bertambahnya usia adalah contoh lain dimana obat yang membantu kita menyesuaikan jam tubuh kita mungkin akan memperbaiki kualitas hidup orang dengan lebih baik," tambah Ptacek. Para peneliti mengatakan ke 6 anggota keluarga yang dipelajari itu karena bangun lebih awal juga menderita asma, depresi dan sakit kepala. Ilmuan percaya mungkin ada kaitan antara penyakit-penyakit tersebut dengan gangguan tidur. Refleksiologi Tom Feroah dari Medical College of Winconsin di Milwaukee telah meneliti tikus-tikus yang hampir identik satu sama lainnya dan menyimpulkan berbagai perbedaan gen menyebabkan pola tidur yang berbeda. Professor Feroah mengatakan tak mengherankan kalau orang-orang yang menderita ganguan tidur menderita berbagai penyakit. Ia mengatakan ritme Circadian mengatur rangkaian jam-jam kecil yang terdapat dalam tiap sel, yang akhirnya mengatur sistim kekebalan, pengaturan suhu, hormon dan fungsi-fungsi otak otak. "Ada gabungan dari seluruh fungsi tubuh, dimana kita mencoba untuk tidur diluar kebiasaan, karena terbiasa dengan TV atau karena ada lampu yang hidup kita seakan-akan mengacaukan seluruh fungsi tubuh. Ini membuat kita merasa lebih tertekan dan tidak mampu juga melepaskan stress, dan tidak tidur dengan baik, tidak sembuh dengan normal kalau sakit dan memiliki kecenderungan menderita penyakit," jelas Feroah. Orang-orang yang tidurnya tidak baik dan tidak bisa tidur lelap, menderita penyakit jantung lebih banyak, tekanan darah tinggi dan stroke, yang disebabkan gangguan pada system kekebalan (Tietjen, 2004).
Para peneliti berharap menemukan gen tidur lebih banyak. Studi laboratorium sejauh ini menunjukkan perubahan kecil pada gen CK1 Delta menenangkan kegiatan protein yang kelihatannya menggangu tidur. Ini mungkin kabar baik bagi orang yang tidak bisa memperoleh tidur malam yang baik (Sutardi, 2009).
Ada dua jenis pola tidur yang saling bergantian sepanjang malam. Seseorang yang mulai tertidur akan memasuki pola tidur ringan lalu berlanjut ke pola tidur nyenyak. Perubahan dari pola tidur ringan ke tidur nyenyak dan kembali ke tidur ringan membentuk satu daur yang berlangsung selama sekitar 90 menit. Bagi orang dewasa yang sehat, ini terjadi sebanyak lima sampai enam kali selama tidur yang tidak terganggu. Kedua pola tidur ini sangat penting bagi kesehatan fisik maupun kesehatan mental seseorang (Gaffar, 2001).
Pada pola tidur ringan atau masa rapid eye-movement (REM) seseorang akan bermimpi. Ini akan ditandai dengan bergeraknya bola mata dengan cepat. Pada pola tidur inilah seorang anak akan mengompol. Rata-rata seseorang akan bermimpi sebanyak lima kali semalam. Akan tetapi, umumnya hanya mimpi yang terakhir saja yang dapat diingat. Bahkan sebagian orang tidak dapat mengingat mimpinya sama sekali. Selama pola tidur ringan inilah konflik pikiran dan perasaan terselesaikan sehingga mental akan megalami ketenangan. Selama pola tidur nyenyak, sistem perbaikan dan pemeliharaan tubuh bekerja keras mempersiapkan tubuh untuk menghadapi kesibukan pekerjaan keesokan harinya. Bagian-bagian tubuh yang rusak akan diperbaiki maupun diganti dengan yang baru. Sel-sel darah yang baru akan dihasilkan dalam jumlah yang banyak (Tietjen, 2004).
Organ-organ tubuh yang telah bekerja keras sepanjang hari seperti otot-otot tubuh dan organ pencernaan akan beristirahat penuh. Berapa banyaklah waktu tidur yang cukup? Sebuah penelitian pernah diadakan untuk menguji ketahanan untuk tidak tidur. Pada penelitian ini, di bawah kondisi laboratorium seorang sukarelawan yang sehat pernah dipaksa untuk tidak tidur sampai 264 jam atau 11 hari (Sutardi, 2009).
Kekurangan tidur yang sangat hebat ini mengakibatkan tingkah laku yang aneh serta perubahan-perubahan fisik yang nyata. Tidur yang kurang akan mengurangi kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi dan berpikir dengan cerdas, serta akan menimbulkan rasa letih yang kronis. Hasil penelitian Wilse B. Webb dari laboratorium tidur di University of Florida menunjukkan bahwa 9 dari 10 orang membutuhkan antara 5 sampai 9 jam tidur. Tentunya ada beberapa orang yang memerlukan tidur hanya 4 jam seperti Benjamin Franklin, Thomas A. Edison, dan Imelda Marcos. Dan ada juga yang seperti Albert Einstein yang harus tidur paling sedikit 9 jam semalam agar sehat. Meskipun demikian, kebanyakan orang membutuhkan 7,5 sampai 8,0 jam tidur setiap malamnya (Sanesta, 2009).
Satu hasil penelitian yang tidak kalah penting menunjukkan bahwa tidur terlalu banyak akan memberikan pengaruh yang sama dengan tidur terlalu sedikit. Masing-masing orang membutuhkan jumlah jam tidur yang berbeda dari yang lainnya. Jumlah jam tidur yang ideal untuk kita adalah jumlah jam yang umumnya memberikan kita perasaan segar dan semangat yang tinggi untuk segera bangun. Tetapi, berapa pulas kita tidur adalah faktor penentu yang lebih penting daripada berapa jam lamanya tidur itu. Usahakan agar tidur anda adalah jenis tidur yang menyegarkan dan memulihkan (Sanesta, 2009)

Diposting OLeh : Andikha

No comments:

Post a Comment